Sabtu, 14 Februari 2015

Waktu yang di Nanti



Waktu yang Dinanti
Aku tidak tau dari mana harus memulai cerita ini, karena sampai sekarang aku
juga masih belum menemukan akhir dari cerita ini. Aku masih belum tau, apakah akhir cerita ini akan sama dengan cerita sebelumnya yang harus berakhir dengan sad ending story dan kembali move on atau sperti cerita-cerita dalam sinetron atau drama korea yang sering ku lihat. Happy end. Forever.

Cerita ini dimulai kurang lebih tiga tahun yang lalu, saat aku masih menjadi mahasiswa baru, masih imut-imutnya neh. Aku adalah tipe orang yang mudah menyayangi orang lain, hal ini baik kalau itu kepada sesama wanita tapi lain ceritanya kalau hal ini terjadi pada lawan jenis. Makanya aku menyiasatinya dengan menjaga pandanganku, aku tidak mau memperhatikan lawan jenisku, selain itu juga merupakan perintah agama. Karenanya, aku tidak terlalu mengenal orang-orang yang ada di sekitarku. Kecuali ia orang yang aktif dan sering mengajakku berbicara. Aku juga hanya tau sedikit dari teman-teman laki-laki yang se-fakultas denganku, jangankan yang beda jurusan. Yang sekelas-pun ada yang setelah hampir 2 tahun sekelas aku baru hafal namanya.
Tapi kemudian aku melakukan sedikit kesalahan yang imbasnya ku rasakan sampai sekarang, di semester ke dua ku di bangku perkuliahan tanpa sengaja aku memperhatikan seseorang. Dari ketidak-sengajaan itu ada sedikit rasa kekaguman yang terselip dihatiku padanya yang lama-lama rasa kagum itu berubah menjadi rasa suka dan menumbuhkan rasa sayang dan aku tidak tau apakah rasa itu sekarang sudah naik tingkatan menjadi cinta atau apalah namanya, karena sampai sekarang aku masih belum mengerti dengan ungkapan cinta pada lawan jenis ini.
Rasa kagumku lahir bukan dari paras atau penampilannya,

Jumat, 13 Februari 2015

Jalan Terbaik



Jalan Terbaik

Namaku Fitri, aku sangat mengagumi seseorang bahkan lebih dari rasa kagum, Rezki namanya, aku dan teman-teman sering memanggilnya mas Rezki. Aku sudah mengenalnya sejak berusia 8 tahun, sekarang usiaku sudah 16 tahun. Dia lebih tua 9 tahun dariku dan aku mengenalnya sebagai salah satu “ustadz” ditempat aku belajar tentang Alquran. Tapi entah bagaimana menceritakannya, sekarang statusku dengannya bukan hanya sekedar antara “guru mengaji” dan “santri”, tapi “pacar”.
 Yah, sebagai remaja yang aktif dalam lembaga remaja mesjid, dalam keseharian kami mengenal dan sedang menjadi trend saat ini istilah “pacaran Islami”.

Jangan Jatuh Cinta



Jangan jatuh cinta
“jangan jatuh cinta kalau belum siap berumah tangga” ucap kakakku yang hanya lebih tua 2 tahun dariku dan dia sudah menikah. Yah, sekarang umurku sudah menginjak kepala 2, oktober ini umurku sudah menginjak angka 21 tahun. Dan sekarang aku sedang memendam perasaan pada seseorang, aku bingung harus melakukan apa.
“ajukan diri dan menikah, saran kakakku beberapa hari yang lalu ketika aku bercerita tentang hatiku. Orang tua juga sering menanyakan “kapan kamu mau nikah?”. Padahal aku merasa sama sekali belum siap.
Ada beberapa orang yang telah menyatakan niat suci mereka untuk mengkhitbahku, tapi masalahnya aku itu diibaratkan rumah, sebuah rumah yang sudah dimasuki pencuri, parahnya lagi, kalau pencuri pada umumnya hanya mengambil barang berharga yang ada didalam rumah dan membawanya pergi, pencuri yang sudah memasuki rumahku ini bisa dibilang keterlaluan. Kenapa? Karena dia tidak membawa apapun bersamanya, melainkan mengambil satu-satunya kunci masuk kerumahku, menguncinya dan pergi dengan membawa serta kunci itu tanpa kuketahui dia akan kembali dengan membawa kunci itu atau malah melemparkan kunci itu kejurang dan pergi entah kemana untuk selamanya...