Namaku Fitri, aku sangat mengagumi seseorang bahkan lebih dari rasa
kagum, Rezki namanya, aku dan teman-teman sering memanggilnya mas Rezki. Aku
sudah mengenalnya sejak berusia 8 tahun, sekarang usiaku sudah 16 tahun. Dia
lebih tua 9 tahun dariku dan aku mengenalnya sebagai salah satu “ustadz”
ditempat aku belajar tentang Alquran. Tapi entah bagaimana menceritakannya,
sekarang statusku dengannya bukan hanya sekedar antara “guru mengaji” dan
“santri”, tapi “pacar”.
Yah, sebagai remaja yang
aktif dalam lembaga remaja mesjid, dalam keseharian kami mengenal dan sedang
menjadi trend saat ini istilah “pacaran Islami”.
Cinta yang terjalin dan disepakati oleh kedua belah pihak yang notabenenya aktif dalam bidang keagamaan. Kami tidak pernah melakukan aktifitas yang dilakukan oleh orang berpacaran pada umumnya. Sebaliknya, kami saling mengingatkan pada kebaikan. Ketika janjian jalan paling-paling kami hanya makan berdua atau bersama dengan teman remaja mesjid yang lainnya. Aktifitas kami benar-benar aman dari hal yang menjerumuskan pada Zina, paling tidak begitu yang ku pahami dulu.
Cinta yang terjalin dan disepakati oleh kedua belah pihak yang notabenenya aktif dalam bidang keagamaan. Kami tidak pernah melakukan aktifitas yang dilakukan oleh orang berpacaran pada umumnya. Sebaliknya, kami saling mengingatkan pada kebaikan. Ketika janjian jalan paling-paling kami hanya makan berdua atau bersama dengan teman remaja mesjid yang lainnya. Aktifitas kami benar-benar aman dari hal yang menjerumuskan pada Zina, paling tidak begitu yang ku pahami dulu.
Aku juga pernah bertanya pada seseorang yang ku anggap lebih
memahami agama Islam dibanding anak remaja sepertiku. Aku menanyakan hal boleh
tidaknya berpacaran. Dan jawaban dari beliau benar-benar menenangkan hati dan
mendukung. Beliau menjawab seperti ini, “boleh saja berpacaran, asal tidak
mendalam, pahamkan?”, aku mengangguk walaupun sebenarnya kurang paham dengan
istilah “asal tidak mendalam” yang beliau katakana. Tapi itu cukup, jawaban
itulah yang ku inginkan.
Pernah sekali dua kami
khilaf, yah, manusiakan tempatnya salah dan khilaf. Itupun bukan disengaja dan
tidak melampau jauh, paling tidak ini menurutku. Ia pernah menyentuh tanganku,
tapi aku yakin itu bukan karna ada pikiran yang macam-macam, itu terjadi karena
aku ketakutan ketika dia mengantarku pulang dan melewati tempat yang gelap.
Yah, hanya itu, tidak lebih.
Berpacaran dengan orang yang jauh lebih tua dan dewasa kadang
membuatku bersyukur, tapi kadang juga bosan karna tidak pernah terjadi konflik
diantara kami. Mas Rezki tidak pernah marah ataupun cemburu padaku. Aku juga
berharap sesekali marahan, diem-dieman trus baikan sama seperti teman-temanku
yang lain dengan pasangannya. Tapi itu tidak pernah terjadi. Mas Rezki terlalu
baik dan sabar. Apapun yang kulakukan untuk membuatnya marah, ia tidak pernah
marah ataupun mendiamkanku. Kalau aku mencari-cari masalah supaya ada konflik,
ia akan diam dan menungguku tenang. Setelah aku tenang, baru dia akan
menasehatiku dengan lembut. Hmh, tidak pernah bisa aku membuatnya marah.
Dua hari lagi 14 februari, harusnya aku bisa merayakannya seperti
teman-teman yang lain. Tapi mas Rezki bilang itu bukan budaya Islam dan tidak
patut dicontoh. Dengan terpaksa aku mengabaikan momen ini. “ya udahlah, mending
nyari kegiatan lain” pikirku sambil melihat-lihat pamplet yang terpajang
dimading sekolahku. Ada satu pamflet yang membuatku tertarik, didalamya
tertulis “training manajemen cinta, valentine? So what?”, aku memperhatikan kata-kata
itu dan mulai berpikir untuk mengikutinya. Akhirnya, aku benar-benar memutuskan
untuk mengikuti acara yang jatuh tepat dihari kasih sayang itu.
14 februari tiba, rasanya sudah tidak sabar untuk mengikuti
training hari ini, tapi tidak seperti biasa jantungku terus berdebar tak
karuan. Ada perasaan sejuk yang aneh ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju
tempat acara. Seperti biasa aku memakai jilbab hitam yang tidak terlalu pendek
juga tidak menjulur hingga menutupi lekukan. Aku juga mengenakan kaus ketat
tangan panjang pink kesukaanku, juga rok mekar. Itulah gayaku.
Materi pertama tentang pakaian syar’i wanita, aku tersentak, karena
selama ini yang selalu ku anggap jilbab adalah kerudung, khimar kalo
pematerinya bilang. Dan itu harus juyub(menjulur hingga menutup dada),
cepat-cepat ku tarik kerudungku karena merasa malu. Kemudian pemateri terus menjelaskan kalau yang
namanya jilbab itu adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh yang berbentuk
lorong tanpa potongan, gamis. Ternyata selama ini aku salah paham, tiba-tiba
saja aku merasa malu dengan pakaian yang ku kenakan saat ini.
Tibalah dimateri inti, materi kedua tentang valentine, “ini nih
yang ku tunggu-tunggu dari tadi” pikirku. Pemateri menjelaskan tentang sejarah
valentine yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasih sayang
yang selama ini diidentikkan dengan valentine. Aku terus menyimak dengan
semangat, hingga tiba penjelasan pemateri tentang pacaran. Aku tersentak,
karena pemateri bilang tidak ada yang namanya pacaran dalam Islam meskipun
diembel-embeli dengan kata Islami. Yang namanya pacaran, sedikit banyaknya
pasti menjurus kemaksiat, dengan menunjukkan dalil-dalil dari Alquran dan hadis.
Juga dalil aqli, pemateri bilang “konyol kalau dengan diembel-embeli kata
Islami, aktivitas pacaran menjadi halal dengan dalih saling mengingatkan pada
kebaikan, tidak pernah berduaan bahkan saling membangunkan ketika waktu
tahajjud, lama-lama bakal ada perampok Islami karena mereka ngerampok dengan
pakaian koko trus sebelum merampas barang orang bilang assalamualaikum dan
menasehati agar banyak-banyak sedekah...”
Aku terus mencernanya diotakku, aku bingung, jadi yang selama ini
ku lakukan apa?, pemateri kemudian bertanya “kalo ada orang judi, pake baju
koko, trus kalo kalah bilang astagfirullah, kalo menang bilang Alhamdulillah,
apa bisa dibilang judi Islami dan halal?” serentak aku dan peserta yang lain
menjawab tidak. Aku mulai tertarik untuk terus mendalami Islam.
Diakhir acara, para panitia memberikan peluang pada kami yang ingin
lebih lanjut mengkaji Islam secara menyeluruh. Subhanallah, aku langsung
mengajukan diri untuk bergabung. Setelah beberapa kali mengikuti kajian rutin
setiap minggu dan banyak bertanya tentang pacaran, aku yakin untuk mengakhiri
hubunganku dengan mas Rezki. Sebenarnya aku sedikit kecewa pada mas Rezki,
mestinya beliau lebih tau tentang hal ini. Tapi aku juga sudah terlanjur sangat
menyayanginya, berat untuk memutuskan hubungan dengannya, tapi aku juga tidak
ingin terus menjerumuskan diriku dan dirinya pada kemaksiatan dengan dalih
saling menjaga dengan kebaikan yang disebut pacaran Islami. Ustadzah bilang
kalo jodoh ga bakal kemana dan pacaran bukan solusi, pacaran justru akan
merusak kesucian cinta, fitrah dari Allah.
Aku memilih untuk memutuskan hubungan dengannya melalui sms, karena
sudah tidak mungkin lagi aku berbicara berduaan dengannya, aku baru tau itu
khalwat namanya dan itu haram hukumnya, aku tidak ingin terus menambah kuota
dosaku dengannya.
Asslamualaikum mas Rezki...
Sebelumnya aku memohon maaf sedalam-dalamnya sama mas Rezki,
Selama ini aku banyak berbuat salah sama mas dan sekarang aku ingin
mengakhiri kesalahan terbesar kita kita berdua. Maaf kalau mas sakit hati
dengan keputusanku ini,
Aku lebih memilih menyakiti hati mas sekarang dibanding
menjerumuskan kita berdua kedalam kemurkaan Allah.
Mas, sekarang aku tau kalau pacaran itu ga ada dalam Islam dan
sekarang aku sudah memutuskan untuk berkomitmen menjadi Muslimah yang taat
kepada Allah dan Rasulnya.
Aku yakin mas, kalo kita memang bejodoh, kita bisa bertemu lagi
dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang. Bertemu dalam ikatan halal. Mas ga
usah balas sms aku ini, aku hanya ingin memberitahukan hal ini sama mas, semoga
Allah memberkahi setiap dan sepanjang umur kita.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Jelas berat memutuskan hubungan dengan orang yang sangat kita
sayangi, tapi pasti kita lebih tidak rela lagi menjerumuskan orang yang kita
sayangi pada kemurkaan Allah. Lagi pula dalam sebuah ayat Alquran dijelaskan
bahwa belum tentu apa yang kita sukai itu baik bagi kita, boleh jadi itu adalah
hal yang akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Sebaliknya, boleh jadi hal yang tidak kita sukai justru hal yang menghantarkan
kita pada kebaikan.
Setelah aku memutuskan hunungan dengannya lewat sms, aku tidak
pernah melihatnya lagi, teman remaja mesjid yang lain bilang kalau mas Rezki
pulang ke Jogja, tempat orang tuanya. Dan aku yakin, inilah jalan yang terbaik
untukku dan mas Rezki, semoga Allah memberikan segalanya yang terbaik untuk
kami berdua dan tentunya kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen sopan menunjukkan kepribadian..